Pusatnya Berbagai Macam Batik. Batik Pria, Batik Wanita, Batik Anak2 dan Aksesoris Batik Lainnya. Kualitas Asli SOLO
 

BATIKLAKSMI.COM

Pusatnya BERBAGAI MACAM BATIK SOLO

 

 

 

 

 

PRODUK KAMI:

 

-

Bantal Batik

-

Kaos Batik

-

Kemeja batik

-

Blus Batik

-

Daster Batik

-

Rok Batik

-

Sandal Batik

-

Celana Batik

-

Jilbab Batik

-

Mukena Batik

-

Sajadah Batik

-

Sprei Batik

-

Bahan Batik

-

Sutera Batik

-

Interior Batik

call/sms us at :       

(62 21) 536 522 78

          or                      

(62) 0813 146 00 283

 

email:        mamakhansa@gmail.com

 

showroom:

1. Raden Mas Said, SOLO

                                             

2. Kemanggisan, Jak-Bar

 

 

    

Sejarah Batik SOLO, Laweyan:

Mbok Mase Menentukan Segalanya

 

Pemberontakan laskar China yang berhasil membunuh komandan garnizun Belanda di Kartasura, Van Velzen, pada 10 Juni 1741 berkembang menjadi awal kehancuran Kraton Kartasura Hadiningrat.

Laskar China yang marah melihat inkonsistensi Paku Buwana II melawan Belanda menjarah Kraton Kartasura, sehingga Paku Buwana II harus melarikan diri ke sebuah goa di tepi Sungai Laweyan, Solo.

Paku Buwana II meminta bantuan pinjaman puluhan kuda dari para saudagar batik Laweyan dalam pengasingannya. Tetapi, permintaan itu ditolak mentah-mentah para saudagar batik SOLO Laweyan. Bagaimana mungkin para saudagar pribumi Jawa membangkang terhadap pewaris takhta Mataram itu?

Peneliti sejarah dari Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret Surakarta Soedarmono di suatu malam awal November lalu di Solo (baca: Surakarta) bertutur kepada Tim Lintas Timur-Barat Kompas hingga lewat tengah malam.

Penjelasannya sederhana, karena yang berkuasa di Laweyan adalah kaum perempuan. Kaum perempuan Laweyan benci dengan gaya hidup priayi istana yang berfoya-foya, gila hormat, dan berpoligami. Bagi mereka, tidak ada gunanya menolong seorang raja. Sejak lama mereka telah resisten, katanya

Menurut Soedarmono, di Laweyan, perempuan berkuasa dan kekuasaan itu dijadikan alat untuk melawan berbagai bentuk penindasan terhadap perempuan, termasuk poligami yang acap kali dilakukan kaum priayi istana.

Komunitas pedagang Laweyan berangkat dari ibu rumah tangga Laweyan yang mem batik di sela-sela menjalankan pekerjaan domestik mereka. Pekerjaan mem batik itu amat halus dan rumit sehingga lelaki tidak memiliki tempat dalam dalam pekerjaan ini. Sambilan mem batik ini lalu berkembang menjadi usaha perdagangan, dan menjadi sumber utama penghasilan keluarga, kata Soedarmono.

Peran sang ibu
Dalam tesisnya, Munculnya Kelompok Pengusaha Batik di Laweyan pada Awal Abad XX, dituliskan ibu rumah tangga memegang kekuasaan utama atas jalannya perdagangan batik SOLO, Laweyan. Sang ibu mengurus keuangan, menentukan jumlah produksi, dan mendistribusikan batik Solo itu ke tangan konsumen.

Sang suami sebagai kepala rumah tangga hanya memegang peranan 25 persen dari proses produksi batik Solo itu. Status kekuasaan perempuan itu mewujud dalam sebutan Mbok Mase, sementara lelaki selaku kepala rumah tangga di posisi kedua dengan sebutan Mas Nganten.

Perempuan menentukan segalanya. Seorang Mbok Mase menentukan perjodohan anaknya. Lamaran Mas Nganten hanya formalitas karena telah ditentukan oleh Mbok Mase. Menantu laki-laki akan tinggal seterusnya di rumah Mbok Mase. Jika tiba waktunya, istrinya akan menjadi Mbok Mase generasi berikutnya, dan ia menjadi Mas Nganten. Mertuanya tetap tinggal serumah, menjadi Mbok Mase Sepuh dan Mas Nganten Sepuh, tambahnya.

Seorang Mas Nganten boleh melakukan apa saja yang diinginkannya, selama tidak berpoligami, tidak berfoya-foya, dan tidak menyakiti hati Mbok Mase. Jika seorang Mas Nganten mencederai kepercayaan Mbok Mase, sang Mas Nganten diceraikan dan kehilangan tempat dalam struktur sosial Laweyan. Perempuan Laweyan berupaya mempertahankan kekuasaan itu secara turun-temurun, tutur Soedarmono.

Menjadi bakul
Menurutnya, para Mbok Mase sadar bahwa kekayaan harta yang bersumber dari produksi batik Solo merupakan benteng bagi perempuan Laweyan untuk terhindar dari penindasan laki-laki.

Dalam menikahkan Mas Rara, Mbok Mase berpegang pada asas banda ora keliya, harta tidak jatuh ke tangan orang lain. Mas Rara harus menikah dengan anak Mbok Mase lain, atau setidaknya menikah dengan anak pedagang besar, katanya. Mbok Mase mempersiapkan Mas Rara untuk menjadi Mbok Mase berikutnya, dan dipersiapkan sejak usia enam tahun.

Salah seorang mantan pengusaha batik Solo, Laweyan dari keturunan keluarga Reksodimedjo, Mulyani (69), menuturkan sejak kelas IV Sekolah Rakyat dirinya telah diajak ibunya mengurus dagangan batik di Pasar Klewer dan Pasar Nonongan, Solo.

Saat pulang sekolah saya berpapasan dengan ibu di jalan, bisa langsung disuruh naik ke becak. Tas sekolah saya langsung dititipkan ke tetangga. Istilahnya, bangun tidur menjadi bakul, dari mulai bangun tidur langsung menjadi pedagang. Tidak ada istirahatnya, selalu kerja keras, kata Mulyani.

Di masanya, anak gadis biasanya tinggal dalam rumah bertembok tinggi. Seolah, kami hanya dididik untuk kerja, katanya. Mas Rara, seperti Mulyani, ditempa menjadi pribadi mandiri. Sejak kecil, ayah mengajarkan, kami anak perempuan harus malu jika hanya menadahkan tangan ke suami, ujarnya.

Berbeda dengan keluarga Laweyan lainnya, Mulyani dikirim ayahnya ke sekolah. Salah satu adiknya kini menjadi doktor di bidang arkeologi dan mengajar di jurusan Arsitektur di Universitas Tarumanegara, yaitu Dr Nanik Perditi. Dia juga menjabat sebagai Direktur Centre for Architecture and Conservation.

Gara-gara bersekolah tinggi, Mulyani menjadi rasanan (bahan perbincangan) tetangganya. Setelah lulus SMA tahun 1957, saya berniat sekolah di Universitas Gadjah Mada, tetapi gagal karena ayah sakit keras, lanjutnya. Karena saya belum juga menikah, ibu sampai malu. Tahun 1959 saya menikah, tambahnya. Ia menjadi Mbok Mase terakhir. Pabrik batik SOLO keluarganya tutup akhir tahun 1994 karena dia lelah dan tidak bisa mengikuti tren mode batik bukan sebagai kain. Batik Laweyan ketika itu berkembang menjadi produk seprai, baju, daster, dan sebagainya. Keturunan keluarga Laweyan yang masih bertahan yang bisa kita lihat sekarang di antaranya adalah Danar Hadi.

Mbok Mase juga memotori industrialisasi batik, pergeseran batik tulis ke batik cap pada awal abad XX, dan selanjutnya ke batik printing pada tahun 1970-an. Produksi batik Solo bergeser dari pekerjaan rumahan menjadi kegiatan pertukangan.

Dengan modernisasi itu, batik Laweyan mencapai puncak kejayaan. Laporan De Kat Angelino tahun 1930 menunjukkan, sebuah perusahaan batik besar di Laweyan bisa memproduksi 60.400 potong batik per tahun.

Dalam satu tahun, penghasilan bersih juragan batik Laweyan bisa mencapai 60.400 gulden. Itu jauh di atas penghasilan seorang priayi keraton, kata Soedarmono.

Kemakmuran para Mbok Mase tergambar dari peninggalan bangunan tua di Laweyan, di mana rumah para Mbok Mase Laweyan tidak ubahnya dengan istana, dengan tembok tingginya. Model bangunan Laweyan bernapas art deco, model bangunan paling modern ketika itu.

Pada tahun 1987, Soedarmono masih menemukan rumah milik Tjokrokarno, sebuah rumah dengan luas tanah 3.000 meter persegi. Rumah itu memiliki bekas kandang kuda yang cukup untuk lima ekor kuda, berikut garasi mobil untuk beberapa mobil Fiat, ujar Soedarmono.

Hingga kini sisa-sisa kejayaan pedagang Laweyan dan batik Solo Laweyan masih terlihat di Jalan Dr Rajiman yang di kanan kirinya berjajar loji-loji (bangunan rumah tembok) berarsitektur art deco milik para saudagar batik Solo Laweyan. Salah satunya adalah penginapan Roemahkoe.

Kebijakan pemerintah membuka kompetisi antara batik cap dengan batik printing telah mematikan komunitas Laweyan.

Alat cap para saudagar batik Solo yang dulu begitu berharga hingga menjadi obyek curian di antara sesama juragan batik kini seolah tak bernilai lagi. Banyak cap dijual di pasar loak sebagai barang antik, sebagian teronggok di gudang di Laweyan. Kini Laweyan ibarat gadis yang kehilangan semangat dan napas hidupnya. Adalah Wali Kota Solo Slamet Suryanto pada 25 September 2004 yang ingin membangkitkan lagi napas Mbok Mase di Kampung Laweyan dengan menjadikannya Kampung Batik. Akankah napas Mbok Mase itu bangkit lagi?

Sumber : (isw/why/nut) Kompas Cetak

 

 

copyright 2008@BATIKLAKSMI