Pusatnya Berbagai Macam Batik. Batik Pria, Batik Wanita, Batik Anak2 dan Aksesoris Batik Lainnya. Kualitas Asli SOLO
 

BATIKLAKSMI.COM

Pusatnya BERBAGAI MACAM BATIK SOLO

 

 

 

 

 

PRODUK KAMI:

 

-

Bantal Batik

-

Kaos Batik

-

Kemeja batik

-

Blus Batik

-

Daster Batik

-

Rok Batik

-

Sandal Batik

-

Celana Batik

-

Jilbab Batik

-

Mukena Batik

-

Sajadah Batik

-

Sprei Batik

-

Bahan Batik

-

Sutera Batik

-

Interior Batik

call/sms us at :       

(62 21) 536 522 78

          or                      

(62) 0813 146 00 283

              or

(62-21) 95 1000 50

 

email:        mamakhansa@gmail.com

 

showroom:

1. Raden Mas Said, SOLO

                                             

2. Kemanggisan, Jak-Bar

 

 

del.icio.us
Furl
Google
ma.gnolia
Netscape
Netvouz
RawSugar
reddit
Shadows
Simpy
Sphinn
StumbleUpon
Yahoo MyWeb

    

Keterpurukan Kampung Batik

Keterpurukan kampung batik bukan hanya terjadi di desa, seperti di Kecamatan Karang Dadap. Beberapa kampung batik di kawasan kota Pekalongan, Kampung Pesindon misalnya, dulu dikenal sebagai kampung pembatik. Akan tetapi, saat ini Kampung Pesindon atau Kauman telah menjelma menjadi kampung pedagang batik.

MB Nur Hidayat, pemilik galeri Batik Seni Asti, menuturkan, batik sudah berkembang menjadi dagangan yang harus memerhatikan selera pasar. ”Pedaganglah yang mampu mengenali barang apa yang sedang laris di pasaran, di Yogyakarta dan Solo. Jadi, pembatik kini bekerja untuk pedagang,” ungkap Hidayat yang menjajakan batiknya hingga Yogyakarta dan Solo.

”Dari situ saya mengetahui perkembangan pasar. Begitu ada tren baru, saya mengantisipasinya, meminta pembatik membuat batik yang sesuai permintaan pasar,” katanya. Di tangan para pedagang itulah konsep dan desain baru batik Pekalongan berkembang.

Dengan modifikasi motif, batik tulis mendapatkan tempat di pasar, yaitu sebagai karya seni sehingga yang mendapat tempat adalah batik tulis halus. ”Batik sablon kasar juga mengembangkan motif dengan cepat. Itu barangkali sebabnya batik tulis kasar sulit mencari tempat di pasar karena kalah efisien dibandingkan batik sablon,” kata Hidayat yang menjual berbagai jenis kualitas batik. ”Toko saya seperti toko swalayan. Batik seharga Rp 20.000 ada, batik Rp 2 juta juga ada,” ujarnya menerangkan.

”Terus terang, saya lebih senang menjual batik seni. Batik seni tidak sensitif terhadap perubahan harga bahan baku dan biaya produksi. Nilai jualnya jauh di atas ongkos produksi,” ujarnya. Dia yakin, sebagai karya seni, batik tulis tidak akan ditinggalkan orang. ”Konsumen batik seni adalah orang yang menghargai batik sehingga mereka mau mengeluarkan lebih banyak uang. Sebagian dari mereka malah memburu batik-batik halus ini,” ujarnya menambahkan.

Untuk batik tulis, Hidayat memilih menjual batik sutra yang harganya Rp 1 juta-Rp 2 juta. ”Saya juga berjualan batik mori halus, tetapi jumlahnya sedikit. Saat ini pembuat batik halus mori sedikit. Hanya yang garapannya sangat halus bertahan di cerukan pasar batik seni. Batik kelas itu membutuhkan waktu pembuatan lama, bisa pesan setengah tahun baru jadi,” kata Hidayat.

Apa yang dikatakan Hidayat tidak salah. Di penggal jalan raya Kedungwuni terdapat papan Art Batik. Dari sanalah roda perusahaan batik tulis mori halus Oey Soe Tjoen digerakkan oleh Widianti Widjaja, generasi ketiga Batik Oey Soe Tjoen yang mulai berdiri sejak tahun 1920.

Produksi Oey Soe Tjoen bisa dikatakan adikarya batik yang pembuatannya memakan waktu setengah tahun hingga dua tahun. ”Satu motif ini dikerjakan oleh lebih dari satu pembatik. Ada yang khusus membuat cecek (titik-titik halus—Red), ada yang khusus membuat gambar dasarnya, dan lainnya lagi. Setidaknya satu kain melibatkan antara sepuluh hingga 15 pembatik dengan spesialisasinya. Masing-masing kami pilih yang terbaik,” ujar Widianti.

Maka, tidak mengherankan jika batik berlabel Oey Soe Tjoen ini menjadi karya eksklusif yang hanya dibeli oleh kalangan tertentu—para pejabat dan konglomerat—termasuk orang asing, kebanyakan dari Jepang. Motif batiknya pun khas, karena motif tersebut merupakan warisan dari sang kakek dan nenek. ”Ada sekitar 100 motif batik ciptaan kakek dan nenek yang masih kami pertahankan,” ujarnya.

Sementara kemandekan Patonah dan Ruki’ah membuat mereka hanya menjadi penonton dan pemeran pembantu dalam gemerlap bisnis batik Pekalongan, Hidayat dan Widianti pun terus berkibar. Hidayat dengan kepiawaiannya berakrobat di tengah tren pasar, sementara Widianti berkutat dengan keeksklusifannya dan ketahanannya mengembangkan batik halus.

Itulah gambaran peta kondisi batik Pekalongan yang namanya telah begitu dikenal luas di seluruh Nusantara. Pembatik seperti Patonah dan warga Desa Jrebeng Kembang lainnya kini tersingkir….

Sumber : (WHY/NUT) Kompas Cetak

 

copyright 2008@BATIKLAKSMI